MASYARAKAT MINTA PEMDA DAN DPRD ARU PEDULI SITUS SEJARAH

Maluku, Aru- bharani.id

Situs sejarah ritual adat antar padi terbesar di Kabupaten Kepulauan Aru yang sudah berlangsung ratusan tahun silam oleh para leluhur, sampai sekarang masih dilestarikan dan di jaga dengan baik oleh anak cucu. adat antar padi yang sangat sakral ini melibatkan enam desa yakni Desa Koba Seltimur, Desa Koba Selpara, Desa Koba Dangar, Desa Ujir, Desa Samang, Desa Wokam dan satu etnis Bugis Makasar.

tempat sejarah ini berada di pusat kota dobo Kabupaten Kepulauan Aru yang di berinama pelabuhan adat antar padi Galay dubu dimana jaman dahulu kala tempat ini menjadi sangat penting dan menjadi tempat perjanjian para datuk Koba dan datuk bugis untuk bertemu. sebelum datuk koba membawah padi adat menuju tiga desa yakni desa Ujir, Desa Samang dan Desa Wokam

namun situs sejarah yang sudah ratusan tahun itu kini sudah berubah menjadi pemukiman warga. situs sejarah yang harus dilestarikan dan dilindungi keberadaanya tidak nampak lagi, telah berdiri bagunan toko, bengkel dan rumah-rumah kos. lebih aneh lagi di tempat tersebut sudah ada sertifikat kepemilikan tanah yang di keluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional. padahal warga yang kini menguasai lahan tersebut mereka tau jelas tempat itu sangat bersejarah bagi masyarakat aru namun karena kerakusan ingin memiliki lahan tersebut dengan segala macam cara akhirnya mereka bisa memilki tanpa rasa bersalah kepada para leluhur.

karena situs sejarah ini sudah dikuasai oleh mereka yang tidak menghargai adat istiadat masyarakat aru, membuat Para tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan para pemuda dari enam desa dan juga etnis Bugis Makasar bersatu untuk mempertahankan situs sejarah para leluhur mereka. Mereka menyayangkan sikap Pemerintah Daerah dan DPRD yang tidak ada perhatian sama sekali dengan situs sejarah para leluhur mereka. Ini membuktilan bahwa Pemerintah daerah dan DPRD kurang menghargai adat dan budaya dinegeri sendiri. karena sampai dengan sekarang tidak ada perda yang dibahas terkait perlindungan situs sejarah di kabupaten ini.

untuk mempertahankan situs bersejarah ini mereka melayangkan surat kepada Pemerintah Daerah dan DPRD, tembusan kepafa Kepala Kejaksan Negeri, Kapolres Pulah-Pulau Aru dan Danramil. surat yang dilayangkan meminta agar Penerintah Daerah secepatnya mengambil alih situs sejarah tersebut sebelum ritual adat antar padi dilaksanakan. namun kalau sampai batas waktu tuntutan mereka tidak dipedulikan oleh pemerintah daerah dan DPRD maka mereka akan turunkan masa dari enam desa ke kota dobo demi mempertahankan peninggalan sejarah para leluhur mereka.
(BAMBANG ANAKODA