Jaminan Kesehatan Untuk Masyarakat Pesisir di Aru Belum Memadai

KEPULAUAN ARU – bharani.id MALUKU


Kasus kematian sejumlah warga desa di pesisir Pulau Aru akibat minimnya tenaga medis serta fasilitas penunjang lainnya sebetulnya bukan hal baru. Hampir setiap tahun kasus yang sama selalu terjadi.

Ditahun 2019 ini dikabarkan belasan pasien di Desa Jirlai, Maririmar dan Desa Silbata, Kecamatan Aru Tengah, meninggal dunia lantaran minimnya tenaga medis serta keterbatasan transportasi dan persediaan obat yang acap kali kurang.

Hal tersebut dibenarkan sejumlah warga Desa Djirlai yang ditemui. Mereka mengaku, akibat minim tenaga medis, kerap terjadi masyarakat yang sakit lambat tertangani, sehingga berujung kematian korban.

Respons petugas kesehatan yang hanya seorang bidan acapkali lambat karena harus menghadapi medan yang sulit. lni belum termasuk persediaan obat yang acapkali kurang, peralatan medis yang terbatas, dan tidak adanya transportasi yang mendukung mobilitas bidan yang bertugas melayani Desa jirlai, Maririmar dan Silbata.

Mereka juga mengaku tidak sekali-dua kali, warga yang sakit biasanya terpaksa menggunakan transportasi laut seadanya ke Puskesmas induk di Desa Wakua yang membutuhkan waktu berjam-jam sehingga akhirnya warga yang bersangkutan meninggal di tengah jalan sebelum sempat menjalani perawatan.

Olehnya mereka berharap, pemerintah daerah bisa menambah satu tenaga medis (Perawat) di Pustu Jirlai serta membuat sebuah kebijakan agar pustu di Desa Jirlai dibawah Puskesmas Kecamatan Aru Tengah Benjina. Alasan ini dikemukakan berdasarkan jarak antara Desa Jirlai dan Desa Benjina lebih dekat dibandingkan
dengan Desa wakua.

Terkai kasus ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Aru Y.O.Uniplaita yang dihubungi via Telephon Minggu (30/6) mengatakan, hubungi Kapus Wakua dan Kapus Benjina saja.

“Mama ada di dalam pesawat jadi hubungi Kapus Wakua dan Kapus Benjina saja.” ungkapnya.(NYS)